Rabu, 27 Januari 2010

Lampu besar belum tentu terang

jpgAda pertanyaan iseng, nih...! Coba, ada yang tahu nggak, kenapa daya atau intensitas cahaya alias terangnya lampu motor tipe bebek lebih rendah daripada tipe sport? Lalu, kenapa sih nggak dibikin sama aja? Kan lebih enak kalau terang?

Sebenarnya jawabannya nggak terlalu ribet. Itu menurut Hery Daryono dari PT Indonesia Stanley Electric (ISE), produsen lampu, lho! Menurut manajer divisi Engineering PT ISE itu, soal daya tiap tipe motor sudah ditentukan tiap pabrikan motor.

"Pada akhirnya, penyuplai lampu dan peranti lainnya menyesuaikan kemauan pabrik motor. Misalnya, Stanley diminta untuk bikin lampu ukuran 25/25 untuk bebek. Dan 35/35 untuk tipe sport. Kita pun siapkan reflektor yang membuat intensitas cahaya dari spek bohlam yang diminta jadi maksimal," jelas Hery.

Karena antara bohlam dan reflektor dibuat sesuai spek, harus ada kesesuaian antar dua komponen penerangan ini. Bukan cuma ukuran daya yang dihitung, tapi juga bentuk bulb-nya. Semua disesuaikan dengan bentuk reflektornya. Ini pun bentuknya harus mengikuti desain batok lampu motor," papar Hery lagi.

Dari situ, Hery menerangkan, karena tiap motor sudah ditentukan daya lampunya, maka penggantian bohlam pun harus mengikuti spesifikasi aslinya. Kenapa itu penting? Sebab, sering kita berupaya mengganti bohlam dengan daya yang lebih besar agar sinarnya lebih terang, tapi hasilnya tidak terlihat.

"Karena antara bulb dan reflektornya sudah didesain menyatu, penggantian dengan bohlam yang dayanya lebih besar, belum tentu membuat cahaya yang keluar dari reflektor lebih terang," jelas pria yang berkantor di wilayah Cikupa, Tangerang, Banten itu lagi.

Ini bisa terjadi jika bentuk dan ukuran bohlam tidak persis dengan bawaan aslinya. "Karena bentuknya beda, akibatnya fokus yang dipantulkan reflektor jadi tidak pas. Akibatnya, cahaya mungkin akan pecah. Jadi tidak terang, kan? Atau, hasilnya tidak maksimal," tegas bapak sepasang anak itu.

Hery pun tidak merekomendasikan penggantian bohlam standar yang bulat dengan halogen. Alasannya, "Pertama, panas yang ditimbulkan jadi berlebih. Halogen yang tidak seusai spek, bisa membuat mika lampu atau reflektor meleleh. Kedua, karena bentuknya beda, cahaya jadi tidak fokus. Lalu, jikapun jadi terang, sinarnya membuat lawan di seberang silau," jelas pria dengan logat Jawa medok itu.

Jadi, Hery kasih saran, jika mau sinar lampu motor lebih terang, kudu ganti seperangkat lampu dan batok lampunya. Itu pun harus disesuaikan juga dengan kemampuan suplai arus dari aki dan rectifier alias kiprok. "Atau, pasang saja lampu tambahan. Dengan catatan, daya aki harus ditambah. Sebab, kalau tidak ditambah, aki akan tekor," tutup warga Kotabumi, Tangerang itu.

Jadi, bohlam yang dayanya lebih besar, belum tentu hasilnya akan jadi lebih terang juga jika tidak sesuai reflektornya.

WATT NGARUH

Menurut Hery Daryono, pemakaian lampu berdaya atau watt tinggi dari aslinya, tidak langsung bikin aki tekor. "Penambahan daya untuk satu lampu tidak signifikan menyedot arus listrik di aki. Karena masih diatur regulator," tegas Hery.

Tapi, jika aki sampai tekor, Hery menunjuk komponen lain jadi penyebabnya. Misalnya, asupan listrik dari sepul atau kiprok tidak maksimal. Atau, akinya memang sudah uzur, sehingga tidak sanggup menampung dan menyimpan setrum.

Selain itu, pemakaian variasi kelistrikan tambahan yang berlebih bisa bikin aki tekor. Misalnya, pasang klakson variasi dan alarm. "Tapi yang banyak menyedot setrum adalah lampu rem variasi yang kayak lampu diskotik itu," tunjuk Hery.

Satu lagi, aki tekor bisa disebabkan karena jalan si setrum terhambat. Misalnya, kabel sudah mulai getas, sehingga nilai hambatannya bertambah. Atau, gulungan kabel sudah ada yang putus. "Semua itu efeknya memang kecil, tapi jika dikumpulkan bisa juga menyebabkan aki tekor," wanti Hery.

0 komentar:

Poskan Komentar